Faktanatuna.id, EKONOMI – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan taringnya pada pembukaan perdagangan pagi ini, Rabu (28/1/2026). Mata uang Garuda terapresiasi seiring dengan berlanjutnya tren pelemahan indeks dolar AS di pasar global.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah tercatat menguat sebesar 0,30% ke level **Rp16.710/US$**. Catatan positif ini memperpanjang tren penguatan rupiah menjadi lima hari perdagangan beruntun, setelah pada penutupan Selasa (27/1/2026) kemarin sempat parkir di posisi Rp16.760/US$.
Dolar AS Terkapar di Level Terendah 4 Tahun
Penguatan rupiah pagi ini didorong oleh tertekannya indeks dolar AS (DXY) yang merosot ke level 96,066. Pelemahan ini membawa greenback ke level terendahnya dalam empat tahun terakhir. Kondisi tersebut memicu investor untuk melepas aset berdenominasi dolar dan beralih ke aset berisiko di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Pelemahan dolar dipicu oleh sejumlah faktor eksternal, di antaranya:
-
Pernyataan Presiden AS Donald Trump: Trump menyatakan tidak khawatir dengan penurunan dolar dan menilai pelemahannya belum terlalu besar. Hal ini dipersepsikan pasar bahwa pemerintah AS nyaman dengan dolar lemah demi daya saing ekspor.
-
Ketidakpastian Kebijakan: Munculnya kembali isu terkait Greenland serta kritik terhadap independensi Bank Sentral AS (The Fed) menambah sentimen negatif bagi dolar.
-
Spekulasi Intervensi: Adanya isu koordinasi intervensi valuta asing antara AS dan Jepang untuk menopang Yen ikut membebani posisi dolar.
Optimisme Bank Indonesia: Rupiah Masih “Undervalue”
Dari dalam negeri, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan keyakinannya bahwa nilai tukar rupiah akan terus bergerak menguat secara fundamental. Menurutnya, penguatan saat ini bukan sekadar fenomena sementara.
“Secara fundamental, nilai tukar rupiah itu akan terus menguat,” ujar Perry dalam konferensi pers KSSK, Selasa (27/1/2026).
Perry menilai posisi rupiah saat ini masih berada di bawah nilai fundamentalnya atau dalam kondisi undervalue. Keyakinan BI ini didukung oleh indikator makroekonomi nasional yang solid, seperti inflasi yang tetap rendah, prospek pertumbuhan ekonomi yang membaik, serta aliran modal asing yang terus masuk ke pasar keuangan domestik.
Dengan kondisi fundamental yang terjaga, rupiah diharapkan tetap stabil dan bergerak menjauhi level psikologis Rp17.000/US$ yang sempat didekati beberapa waktu lalu.
(*Drw)












