Capaian Satu Tahun Pramono Anung-Rano Karno: Transformasi Transportasi Jakarta Jadi Gaya Hidup dan Rekor 413 Juta Penumpang

Pramono Anung Respons Demo Buruh Terkait UMP Jakarta 2026
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung saat meresmikan gedung baru dari SMA Labschool Bintaro, Selasa (9/9/2025)/Dok. Diskominfotik.

Faktanatuna.id, EKONOMI – Dalam satu tahun masa kepemimpinan Gubernur Pramono Anung dan Wakil Gubernur Rano Karno, wajah transportasi publik di Jakarta mengalami transformasi yang signifikan. Bukan sekadar menambah jumlah armada, fokus utama pemerintah provinsi saat ini adalah mengubah paradigma masyarakat terhadap mobilitas perkotaan.

Melalui akselerasi integrasi berbasis teknologi, transportasi umum di Jakarta kini mulai bergeser dari sekadar kebutuhan menjadi gaya hidup kaum urban yang modern, nyaman, dan inklusif.

Gerakan “Rabu Ber-Transportasi Umum”

Salah satu langkah berani yang diambil adalah mewajibkan Aparatur Sipil Negara (ASN) dan mengajak masyarakat luas untuk menggunakan transportasi umum setiap hari Rabu. Staf Khusus Gubernur, Chico Hakim, menjelaskan bahwa kebijakan ini bertujuan untuk menciptakan kebiasaan positif di masyarakat.

“Tujuannya adalah membiasakan publik dengan kenyamanan moda rel seperti MRT dan LRT, serta layanan bus kita. Dengan cakupan layanan Transjakarta yang kini menyentuh 90 persen wilayah Jakarta, aksesibilitas dari pintu rumah ke halte terdekat bukan lagi hambatan,” ujar Chico, Senin (9/2/2026).

Rekor Pelanggan dan Kolaborasi Strategis

Keberhasilan transformasi ini tercermin dari data performa Transjakarta yang mencatat rekor fantastis dengan melayani 413 juta pelanggan sepanjang tahun 2025. Angka ini menunjukkan peningkatan kepercayaan masyarakat terhadap layanan transportasi massal.

Keberhasilan ini juga tidak lepas dari kolaborasi dengan sektor swasta, seperti integrasi dengan layanan ojek online untuk memperlancar koneksi first mile dan last mile. Kemudahan pembelian tiket melalui aplikasi yang terintegrasi terbukti sangat efektif dalam menarik minat pemilik kendaraan pribadi untuk beralih ke moda transportasi umum.

Sinergi lintas sektor ini membuktikan bahwa penyediaan sistem transportasi yang efisien, terjangkau, dan terintegrasi merupakan kunci utama dalam menekan angka kemacetan di Ibu Kota secara berkelanjutan.

(*Drw)