Menko Pangan: Penghentian Impor Beras Indonesia Sukses Menekan Harga Beras Global

Swasembada Beras Indonesia Tekan Harga Beras Global Drastis
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, saat memberikan keterangan pers mengenai keberhasilan Indonesia menekan harga beras dunia di Jakarta, Selasa. (Dok. Ist)

Faktanatuna.id, NASIONAL – Menteri Koordinator Bidang Pangan (Menko Pangan), Zulkifli Hasan, mengungkapkan sebuah fakta menarik. Kebijakan pangan nasional yang diterapkan Indonesia ternyata memberikan dampak signifikan pada pasar global. Ia menyebut bahwa langkah Indonesia menghentikan impor beras telah berhasil memengaruhi dan menekan harga beras di tingkat dunia.

Zulkifli Hasan menjelaskan, Indonesia sebelumnya merupakan salah satu negara importir beras terbesar di dunia. Namun, situasi tersebut berubah drastis dalam waktu singkat. Indonesia kini berhasil meningkatkan produksi dalam negeri. Hal ini membuat Indonesia tidak lagi bergantung pada pasokan luar negeri.

“Ternyata kita ini pembeli beras terbesar di dunia,” kata Zulkifli Hasan di Jakarta, Selasa.

Ia memberikan perbandingan harga yang mencolok. “Dulu waktu saya Menteri Perdagangan, itu beras 650 dolar AS per tonnya. Sekarang karena kita tidak belanja beras, itu di bawah 400 dolar AS. Jadi, Pengaruh Harga Beras Global, luar biasa,” tegasnya.

Surplus Produksi dan Rekor Stok Nasional

Data menunjukkan adanya perubahan drastis pada neraca pangan Indonesia. Pada tahun 2024, Indonesia masih mencatat impor beras sebesar 4,5 juta ton. Namun, memasuki tahun 2025, Indonesia berhasil mencetak surplus produksi beras. Surplus ini bahkan mencapai angka 4,7 juta ton.

Kondisi stok nasional juga sangat aman. Saat ini, stok beras yang tersimpan di gudang Perum Bulog tercatat mencapai 3,7 juta ton.

Berdasarkan data dari Kementerian Koordinator Bidang Pangan, sepanjang Januari hingga Desember 2025, total produksi beras nasional mencapai 34,77 juta ton. Angka ini merupakan kenaikan yang signifikan, yaitu sebesar 13,54 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Tidak hanya beras, komoditas jagung juga mencatatkan kinerja positif. Produksi jagung Indonesia mencapai 16,55 juta ton. Angka ini juga menunjukkan kenaikan 9,34 persen dibandingkan periode tahun lalu.

Kunci Sukses: Penyederhanaan Regulasi Pupuk Bersubsidi

Meningkatnya angka produksi pangan ini menurut Zulkifli Hasan tidak lepas dari perbaikan tata kelola. Khususnya adalah pemangkasan regulasi terkait pengadaan pupuk bersubsidi.

Ia mencontohkan, sebelumnya terdapat sekitar 148 aturan yang mengatur pengadaan pupuk. Saat ini, aturan tersebut berhasil dipangkas drastis menjadi hanya 33 aturan.

“Jadi pupuk sampai sebelum tanam. Sebelum tanam, pupuk sudah diterima,” ujarnya.

Penyederhanaan birokrasi ini memungkinkan petani mendapatkan pupuk tepat waktu sesuai jadwal tanam mereka. Hal ini berdampak langsung pada peningkatan produktivitas hasil panen. “Itu pengaruhnya luar biasa, pengaruh terhadap produksi beras itu luar biasa,” imbuhnya.

Deklarasi Swasembada Beras Indonesia

Menko Pangan juga menyampaikan rencana besar pemerintah. Pemerintah akan segera mengumumkan status kemandirian pangan Indonesia. Pengumuman mengenai keberhasilan Indonesia mencapai Swasembada Beras Indonesia direncanakan akan dilakukan pada akhir tahun ini atau awal tahun depan.

“Satu tahun ini kita sudah swasembada, nanti Mentan (Menteri Pertanian) akan umumkan bahwa Indonesia berhasil swasembada beras,” tutup Zulkifli Hasan.

Keberhasilan penghentian impor beras dan dampaknya pada harga global menjadi bukti nyata. Perbaikan tata kelola dan regulasi di sektor pertanian mampu memberikan dampak signifikan bagi ketahanan pangan nasional maupun stabilitas harga pasar dunia.

(*Drw)