Analis Rully Nova Prediksi Kurs Rupiah Bertahan di Level Tujuh Belas Ribu Per Dolar

BI Tegaskan Aturan Pembayaran Tunai: Dilarang Menolak Rupiah!
/(ilustrasi/@pixabay)

Faktanatuna.id — Nilai tukar mata uang Garuda kembali berada di bawah tekanan sentimen eksternal yang cukup pekat. Analis pasar uang dari Bank Woori Saudara, Rully Nova, mengatakan bahwa tren penurunan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) saat ini sangat dipengaruhi oleh hasil perundingan damai antara blok AS dan Iran yang berakhir buntu dan tidak solid.

Dalam pergerakan pasar spot harian, nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan bergerak melemah fluktuatif pada kisaran Rp17.810 sampai Rp17.860 per dolar AS.

“Walaupun indikator harga minyak mentah dunia mulai menunjukkan tren penurunan dan relatif stabil, namun indeks dolar (dollar index) terpantau tetap bertengger kokoh di level tinggi, yakni skala 101,” ujar Rully Nova dalam analisis harian di Jakarta, Selasa (23/6/2026).

Eskalasi Ketegangan di Timur Tengah: Delegasi Iran Walk Out

Memburuknya stabilitas geopolitik dipicu oleh pernyataan keras Presiden AS, Donald Trump, yang memberikan peringatan sepihak bahwa Washington akan kembali melancarkan serangan militer strategis ke Iran. Syarat yang diajukan Trump adalah jika Teheran tidak memaksa kelompok sekutunya di Lebanon untuk berhenti menimbulkan eskalasi masalah keamanan di perbatasan.

Pernyataan konfrontatif tersebut memicu ketegangan diplomatik baru, yang berujung pada keputusan delegasi Iran untuk meninggalkan ruangan perundingan (walk out). Pihak Teheran menegaskan tidak akan kembali ke meja runding kecuali Donald Trump melayangkan permohonan maaf resmi.

Dampak dari boikot ini, Iran memastikan tidak akan berpartisipasi dalam pertemuan empat pihak (quadrilateral meeting) yang sedianya melibatkan Iran, AS, Qatar, dan Pakistan.

Selain faktor ketegangan Timur Tengah, sentimen negatif bagi mata uang negara berkembang juga datang dari arah kebijakan bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), yang tetap mempertahankan sikap elang (hawkish).

“Arah kebijakan moneter The Fed ke depan cenderung mengarah pada pengetatan likuiditas guna mengendalikan inflasi AS. Masih adanya ruang bagi kemungkinan kenaikan suku bunga acuan sebanyak satu kali lagi di tahun ini berakibat pada indeks dolar yang diproyeksikan akan terus menguat,” ucap Rully Nova memaparkan.

Paket Stimulus Rp26,34 Triliun Jadi Penahan Daya Beli Domestik

Pada sisi internal, kebijakan intervensi stimulus fiskal yang diterbitkan pemerintah pusat diperkirakan akan menjadi penahan (buffer) yang mendukung daya beli masyarakat serta menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional. Kendati demikian, keperkasaan indeks dolar AS tetap membuat ruang penguatan rupiah menjadi sangat terbatas.

Pemerintah sendiri telah merilis paket stimulus ekonomi khusus untuk menyongsong Semester II-2026 dengan total pagu mencapai Rp26,34 triliun.

Berikut adalah rincian alokasi stimulus domestik tersebut:

  • Insentif Sektor Transportasi: Sebesar Rp2,04 triliun untuk menjaga stabilitas tarif logistik.

  • Anggaran Magang dan Vokasi: Sebesar Rp6,26 triliun guna mendorong penyerapan tenaga kerja baru.

  • Bantuan Pangan Nasional: Sebesar Rp18,04 triliun demi menjamin ketersediaan pasokan bahan pokok masyarakat.

Bauran kebijakan fiskal dalam negeri ini diharapkan mampu meredam efek kejut (shock absorber) dari tekanan eksternal, sehingga fundamental ekonomi makro Indonesia tetap terjaga di tengah badai fluktuasi valas global.

*(Drw)