Faktanatuna.id — Publik dikejutkan oleh unggahan viral sebuah struk pembelian BBM di SPBU Pertamina yang menunjukkan harga asli Pertalite mencapai Rp16.088 per liter. Angka tersebut memicu perdebatan hangat terkait transparansi skema subsidi energi yang dikucurkan pemerintah.
Menanggapi polemik tersebut, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M V Dumatubun, menjelaskan bahwa angka Rp16.088 merupakan nilai keekonomian riil Pertalite sebelum dipotong subsidi. Berdasarkan data pada struk tersebut, pemerintah memberikan subsidi sebesar Rp6.088 per liter agar masyarakat tetap bisa membeli di harga Rp10.000 per liter.
Perbandingan Harga Pertalite vs Pertamax
Netizen mempertanyakan mengapa harga keekonomian Pertalite (RON 90) justru lebih tinggi dibanding harga jual Pertamax (RON 92) yang dibanderol sekitar Rp12.300 per liter di wilayah Jabodetabek. Roberth memberikan penjelasan sebagai berikut:
-
Pertalite (Subsidi): Harga Rp10.000 adalah hasil intervensi besar APBN. Tanpa subsidi, harganya melambung tinggi mengikuti beban biaya energi global.
-
Pertamax (Non-Subsidi): Merupakan kategori BBM umum yang harganya mengikuti mekanisme pasar bebas tanpa intervensi APBN, sehingga seluruh beban harga ditanggung langsung oleh konsumen.
Strategi Menjaga Daya Beli
Langkah subsidi ini diambil sebagai strategi nasional untuk menjaga daya beli masyarakat serta stabilitas roda perekonomian di tengah fluktuasi harga energi global. Roberth menekankan bahwa transparansi pada struk tersebut justru bertujuan agar masyarakat mengetahui besarnya kontribusi negara dalam membiayai kebutuhan energi harian publik.
*(Drw)








