Haidar Alwi Bedah Penyebab Rupiah Menyentuh Rp17.700 dan Koreksi IHSG

Etika Komite Reformasi Polri: Antara Koreksi dan Delegitimasi
Ir. R Haidar Alwi, MT.,(Dok. Ist)

Faktanatuna.id — Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat pada 19 Mei 2026 terpantau berada di kisaran Rp17.700 per Dolar AS, beriringan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang bergerak di zona koreksi. Merespons fluktuasi ini, Presiden Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute (HAI), Ir. R. Haidar Alwi, MT, menilai situasi ini bukanlah pertanda melemahnya fondasi ekonomi nasional, melainkan momentum taktis untuk menegaskan kembali amanat konstitusi.

Menurut Haidar, pelemahan mata uang dan penurunan IHSG merupakan dua manifestasi dari satu variabel utama, yaitu melemahnya kepercayaan pasar dalam jangka pendek akibat sentimen global seperti kenaikan harga minyak bumi dan ketegangan geopolitik. Sebagai seorang insinyur dan dewan pembina Ikatan Alumni ITB, ia melihat ekonomi sebagai sistem terintegrasi yang harus diselesaikan dengan formula matematis dan konstitusional yang kokoh.

Hukum Fundamental Kekuatan Rupiah

Haidar Alwi memperkenalkan sebuah persamaan strategis multiplikatif yang disebut sebagai Hukum Fundamental Kekuatan Rupiah.

Persamaan ini merupakan sintesis antara teori ekonomi makro, rekayasa sistem, serta amanat Pasal 33 UUD 1945. Berikut rincian tiga pilar penyusunnya:

  • Produktivitas: Input utama sistem melalui langkah hilirisasi nikel, pengolahan emas, industrialisasi manufaktur, dan modernisasi pertanian untuk mendongkrak devisa.

  • Kepercayaan: Efisiensi sistem yang lahir dari sinergi solid kebijakan fiskal-moneter serta komunikasi publik yang kredibel guna menurunkan premi risiko.

  • Kedaulatan: Mekanisme kendali strategis sesuai Pasal 33 UUD 1945 agar kekayaan alam Nusantara tidak bocor ke luar negeri, melainkan dikonversi menjadi Dividen Kedaulatan untuk rakyat.

Rekayasa Stabilitas Makro Satu Pekan

Untuk jangka pendek, Haidar meyakini kepercayaan pasar dapat dipulihkan dalam waktu relatif singkat melalui skema Rekayasa Stabilitas Makro. Langkah taktis ini mengandalkan optimalisasi penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE), stabilisasi terukur oleh Bank Indonesia, serta peningkatan peran investor domestik sebagai penopang pasar modal.

Haidar optimis fundamental ekonomi di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sangat kuat. Agenda swasembada pangan, kedaulatan energi, dan hilirisasi nasional akan memastikan Rupiah kembali menguat bukan karena intervensi semata, melainkan karena dihormati oleh pasar global.

*(Drw)