Analis Doo Financial Futures Lukman Leong Proyeksi Rentang Fluktuasi Tujuh Belas Ribuan

BI Tegaskan Aturan Pembayaran Tunai: Dilarang Menolak Rupiah!
/(ilustrasi/@pixabay)

Faktanatuna.id — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka cerah di zona hijau pada awal perdagangan Jumat (12/6/2026) pagi. Mata uang Garuda tercatat melaju positif dengan menguat sebanyak 51,5 poin atau sebesar 0,29 persen, menempatkannya di posisi Rp17.937 per dolar AS jika dibandingkan dengan posisi penutupan pasar pada perdagangan sebelumnya.

Analis Mata Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai bahwa penguatan rupiah harian ini didorong oleh meredanya tensi geopolitik global. Harapan baru bagi stabilitas ekonomi makro muncul ke permukaan menyusul adanya pernyataan optimistis dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terkait resolusi konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah.

“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS oleh harapan damai di Timteng menyusul pernyataan Trump bahwa kesepakatan dengan Iran akan terjadi dalam waktu dekat,” ujar Lukman Leong saat memberikan analisis pasar finansial secara berkala, Jumat.

Guna memetakan pergerakan pasar valas sepanjang hari ini, Lukman memproyeksikan mata uang rupiah akan berfluktuasi dengan kecenderungan mempertahankan tren penguatan di rentang komparatif Rp17.900 hingga Rp18.000 per dolar AS.

Peta Pergerakan Mata Uang Kawasan Asia Pasifik yang Bervariasi

Di saat nilai tukar rupiah melaju positif menembus tekanan greenback, pergerakan mata uang regional di kawasan Asia Pasifik terpantau bergerak bervariasi (mixed) pada pembukaan pasar retail pagi ini:

  • Kelompok Menguat: Won Korea Selatan memimpin penguatan sebesar +0,71%, diikuti oleh Peso Filipina sebesar +0,37%, Yuan China sebesar +0,12%, dan Dolar Hong Kong yang naik tipis +0,01%.

  • Kelompok Melemah: Yen Jepang terkoreksi turun sebesar -0,21%, disusul oleh Baht Thailand sebesar -0,09%, dan Dolar Singapura yang melemah -0,08%.

Mayoritas Mata Uang Negara Maju Terjebak di Zona Merah

Berbanding terbalik dengan kondisi rupiah, mayoritas mata uang negara maju justru dilaporkan kompak tertekan di zona merah terhadap dolar AS pada sesi transaksi harian kali ini. Berikut rincian data koreksi pasarnya:

  • Franc Swiss: Melemah sebesar 0,14%

  • Euro Eropa: Melemah sebesar 0,11%

  • Dolar Kanada: Melemah sebesar 0,08%

  • Poundsterling Inggris: Melemah sebesar 0,07%

Kondisi pelemahan ekonomi global tersebut dilaporkan turut menular ke pasar keuangan di belahan bumi selatan. Indikator perdagangan mencatat mata uang Dolar Australia ikut membukukan pelemahan sebesar 0,20 persen terhadap dominasi mata uang babi (greenback) pada pembukaan pasar pagi ini.

*(Drw)